Seri Bimbingan Perkawinan, Sesi 6-8 : Kebutuhan Keluarga

Sub Tema: Memenuhi Kebutuhan Keluarga

Sesi 6 : Kebutuhan Keluarga

Setiap keluarga pasti memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Untuk memenuhinya, selain kerja sama yang erat antara suami dan istri, keduanya harus mengerti apa kebutuhan yang timbul. Jika muncul halangan harus dihadapi bersama.

Secara garis besar, kebutuhan keluarga itu terdiri dari dua jenis, yaitu jenis kebutuhan yang bersifat materi dan jenis kebutuhan yang bersifat immateri.

Pertama, jenis kebutuhan yang bersifat materi memerlukan dukungan finansial. Jenis kebutuhan ini ada yang bersifat fisik maupun non fisik. Kebutuhan fisik terdiri sandang, pangan, dan papan. Setiap keluarga memiliki keunikan dengan skala prioritas mana yang lebih didahulukan. 

Jenis kebutuhan non fisik terdiri dari biaya-biaya terkait dengan kesehatan, pendidikan, pengamanan, rekreasi/hiburan, dan lainnya.

Pemenuhan kebutuhan keluarga harus dilakukan bersama pasangan, saling menopang, kerja sama, dan memahami. Kedua belah pihak tidak boleh saling menuntut kebutuhan karena bangunan rumah tangga adalah hasil kesepakatan bersama.

Kedua, jenis kebutuhan yang bersifat immateri terdiri dari rasa nyaman dan tenang bagi anggota keluarga. Diantara contoh kebutuhan ini adalah saling mencintai, kasih sayang, rasa aman dan tidak takut, tenang atau tidak khawatir, merasa dilindungi, dijaga, perhatikan, dipercaya, dihormati, dan lain-lain.

Pemenuhan kebutuhan yang bersifat immateri harus dimulai dari kesadaran bersama untuk saling menghormati dan menghargai. Tidak ada yang lebih dominan antara suami dan istri karena keduanya adalah pasangan yang saling mencintai.

Hubungan suami istri yang saling menghormati dan menghargai akan berdampak pada hubungan yang luas. Anak-anak akan menjadikan orang tuanya sebagai sosok idola yang pantas diteladani, sehingga terbangun budaya saling menjaga, menghormati, mencintai, meyayangi, dan lain-lain.

Berbeda dengan pemenuhan kebutuhan yang bersifat materi, kebutuhan immateri tidak memerlukan biaya. Ada banyak cara yang bisa ditempuh, seperti suami lebih banyak waktu bersama dengan istri sebagai bentuk penghargaan atas perannya, atau ungkapan sayang istri dengan pelukan atau ciuman kepada suami, dan lain-lain. 

Pemenuhan kebutuhan keluarga di atas harus dilandasi ketulusan masing-masing pasangan tanpa ada yang merasa lebih diantara keduanya. Keduanya harus ditempatkan setara dalam banyak hal. Karena, bahtera rumah tangga terbangun atas dasar cinta kasih.

Sesi 7 : Cara Menghadapai Problem Pemenuhan Kebutuhan Keluarga

Layaknya bahtera yang mengarungi lautan luas, pasti tidak pernah ada bahtera yang berlayar tanpa gelombang ombak, baik kecil maupun besar. Bahkan tidak jarang badai menerjang dari segala penjuru arah. 

Demikian juga dalam keluarga. Suami istri harus mewaspadai barbagai masalah yang berpotensi dan biasa muncul dalam perkawinan, terutama di tahun-tahun pertama. Dengan pengetahuan dan kemampuan mendeteksi dan mengantisipasi diharapkan pasangan suami istri dapat lebih tanggap dan menemukan solusi bersama.

Berikut ini beberapa masalah yang berpotensi muncul dalam menjalani perkawinan. Pertama, kepemimpinan dalam keluarga. Layaknya bahtera memerlukan nakhoda, rumah tangga juga memerlukan pemimpin yang bertanggung jawab, melindungi, dan mengayomi seluruh anggota keluarga. Umumnya pemimpin dalam keluarga adalah suami yang disebut dengan kepemimpinan tunggal (QS: An-Nisa: 34).

Selain kepemimpinan tunggal, ada keluarga yg menganut kepempimpinan kolektif yang dipikul bersama antara suami istri. Keduanya merupakan tim kepemimpinan yang dimiliki bersama dalam keluarga.

Pada dasarnya, siapapun yang menjadi pemimpin dalam keluarga tidak perlu dipersoalkan sepanjang baik dan bertanggung jawab. Setidaknya, kepemimpinan dalam keluarga dapat dilihat dari beberapa indikator sbb:

  • Memiliki kemampuan manajerial, bijaksana, berorientasi pada kepentingan anggota keluarga, mengayomi, dan memastikan seluruh kebutuhan anggota keluarga terpenuhi.
  • Mampu bersikap adil kepada seluruh anggota keluarga, bukan yang menguasai, mendominasi, atau mengambil keputusan secara sepihak demi kepentingan dirinya sendiri.
  • Mampu membangun suasana yang harmonis dan damai dalam keluarga, mendorong terciptanya budaya saling menghormati dan menghargai, serta merawat kasih sayang antara anggota keluarga.
Masalah kedua yang berpotensi timbul dan sering muncul dalam keluarga adalah pembagian peran dalam keluarga. Ada dua peran penting dalam keluarga, peran domestik dan peran publik. Diantara peran domestik (tugas repsroduksi) diantaranya: memasak, menyuci, merawat anak, membersihkan rumah, menemani anak belajar, dan lain-lain.

Sedangkan peran publik adalah tugas yang diorientasikan utk mendapatkan dana atau uang (income) dan untuk kepentingan pengembangan potensi dan aktualisasi diri. 
Dua peran tersebut sering dipahami secara kaku, sehingga tidak jarang menimbulkan perselisihan antara pasangan. Suami harus bekerja di luar rumah, dan istri idealnya menjadi ibu rumah tangga untuk mengurusi kepentingan domestik. Sebenarnya hal ini bisa diterapkan secara lentur sepanjang hasil kesepakatan bersama, sehingga tidak menimbulkan konflik dan tidak saling menyalahkan.
Satu contoh kecil yang sering menjadi persoalan adalah saat istri bekerja (berkarier) di luar rumah. Ketika ada masalah dengan anak, misalnya jatuh, prestasi anak turun, dll, yang sering disalahkan adalah istri semata karena bekerja di luar rumah. Jika keduanya telah sepakat, seharusnya hal ini tidak menjadi alasan berkonflik, tetapi diselesaikan bersama dengan mempertimbangkan kondisi, kesempatan, kemampuan, dan kapasitas masing-masing. 
Sesi 8 : Strategi Pemenuhan Kebutuhan Keluarga

Tiada keluarga yang tidak memiliki masalah. Masalah bisa membesar atau mengecil tergantung cara pandang dan sikap pasangan suami isteri. Selama pasangan memiliki kapasitas yang cukup dalam mengatasi masalah, maka semua masalah akan dilewati dengan manis dan smooth.

Bagaimana strategi dalam pemenuhan kebutuhan keluarga? Strategi ini diperlukan sejak gejala masalah terdeteksi atau muncul ke permukaan, atau ketika isyarat akan adanya masalah muncul.

Strategi pertama, pentingnya pembagian peran yang lentur. Peran domestik (tugas-tugas rumah tangga) dan peran publik (mencari nafkah dan aktualisasi diri) sangat penting, yang tidak boleh diabaikan, serta membutuhkan perhatian serius dari pasangan suami isteri. Pengabaian peran ini akan menimbulkan ketidakstabilan rumah tangga akibat kebutuhan yang tak terpenuhi.

Karena itu, pasangan suami isteri hendaknya menyadari bhwa pembagian peran vital tersebut dapat dilakukan dengan lentur dan kondisional. Tidak ada pembebanan peran secara spesifik, dan kaku, serta berlaku sepanjang waktu dan kondisi kepada satu pihak. Suami dapat menggantikan posisi isteri, demikian juga sebaliknya. Dengan kelenturan peran diharapkan kebutuhan keluarga dapat dipenuhi secara optimal.

Strategi kedua, bekerja sebagai Tim. Beragam dan terus meningkatnya kebutuhan keluarga dari waktu ke waktu menuntut suami isteri agar bisa bekerja sama dalam tim yang solid. Suami isteri harus saling bahu membahu, saling mengisi kekurangan dalam memenuhi kebutuhan keluarga. 

Strategi ketiga, relasi berkualitas antara kepala dan anggota rumah tangga. Keberadaan kepala rumah tangga teramat penting dan menentukan ke arah mana rumah tangga ini akan dibawa. Karena itu, kepala rumah tangga harus sosok yang bijaksana dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi dan mampu mengarahkan misi dan tujuan rumah tangga menuju kehidupan yang tenteram dan penuh kasih sayang.

Strategi keempat, mencoba membongkar ketabuan dengan mengedepankankan keterbukaan. Menciptakan suasana damai dan tenang membutuhkan keberanian untuk bersikap jujur dan terbuka. Pada umumnya, hal yang dianggap tabu dibicarakan adalah hal-hal yang terkait seksualitas dan kesehatan reproduksi. Dalam keluarga kedua hal tersebu sangat terkait dengan hubungan suami isteri. 

Strategi kelima, membudayakan musyawarah dalam pengambilan keputusan. Musyawarah adalah jalan terbaik dalam setiap menyelesaikan masalah atau pengambilan keputusan penting dalam rumah tangga. Setiap anggota keluarga harus dianggap setara yang memiliki hak unttk berpendapat, sehingga tercipta suasana bahagia dan harmonis.

Banyak keluarga yang melihat kebutuhan rumah tangga hanya bersifat materi, sementara kebutuhan immateri sering terabaikan. Kedua kebutuhan sama-sama pentingnya yang perlu dipenuhi agar tercapai sakinah. Dengan bekal pengetahuan yang cukup tentang kebutuhan keluarga, potensi masalah yang mungkin timbul, dan strategi untuk mencari solusi diharapkan pasangan dapat bekerja sama yang kuat sehingga ketahanan keluarga dapat terjaga. Wallahua'lam.

Lanjutan Kultwit tentang Bimbingan Perkawinan Sesi VI di laman Twitter @Kemenag_RI bersama dengan Dr. Thobib Al-Asyhar, M.Si. @biebasyhar dari Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama dan dosen Psikologi Islam pada Program Studi Kajian Strategik dan Global UI Salemba, Jakarta.

0 Komentar untuk "Seri Bimbingan Perkawinan, Sesi 6-8 : Kebutuhan Keluarga"

Back To Top