Seri Bimbingan Perkawinan : Generasi Berkualitas

Salah satu tujuan dari perkawinan adalah melanjuntukan keturunan (manusia) sebagai makhluk yang tercipta paling sempurna. Kelanjutan keturunan diwariskan kepada anak-anak yang lahir dari keluarga yang dibangun atas dasar nilai-nilai luhur dari Tuhan dan hukum positif.

Kehadiran anak merupakan anugerah dan amanah Tuhan yang tidak boleh disia-siakan. Orang tua punya tanggung jawab besar untuk memberikan yang terbaik dalam perawatan, pengasuhan, pendidikan, dan perlindungan.

Islam memberikan perhatian yang serius terhadap kehadiran anak sebagai bagian dari tugas pokok keluarga, sebagaimana hadis Nabi saw: Muliakanlah anak-anakmu dan didiklah mereka dengan baik (HR. Ibnu Majah).

Orang tua adalah guru pertama dan utama. Keluarga adalah "madrasatul ula" atau sekolah kehidupan pertama dan utama yang tidak tergantikan. Keluarga adalah tempat dimana anak paling banyak menghabiskan waktu untuk tumbuh berkembang.

Jika pendidikan anak dalam keluarga dilakukan dengan baik, maka tumbuh kembang anak akan lebih optimal, sehingga dapat melahirkan generasi berkualitas dan berkarakter. Sebaliknya, jika keluarga tidak mampu mendidik anak dengan baik akan menghasilkan generasi lemah dan buruk.

Generasi berkualitas adalah generasi yang bermutu dan berkarakter. Setiap muslim wajib berupaya mewujudkan generasi tersebut dalam semua aspek kehidupan. Islam menuntun kita untuk membangun generasi yang kuat, berdaya, sejahtera, dan bertakwa.

Membangun generasi berkualitas harus dimulai jauh sebelum anak lahir. Ada banyak aspek yang perlu disiapkan sebelum memiliki buah hati, seperti kesiapan fisik, mental emosional, ekonomi, dan akibat lain setelah kelahiran anak.

Kehadiran sang buah hati akan merubah seluruh sisi kehidupan dalam keluarga. Hal yang paling berpengaruh atas lahirnya anak adalah masalah emosi suami-isteri dan kesiapan ekonomi untuk merawat anak. Bagi pasangan yang sudah benar-benar siap akan berusaha menjaga tumbuh kembang anak dengan cara yang baik, berkualitas, dan optimal.

Setiap orang tua pasti berharap anaknya dapat tumbuh kembang dan kelak menjadi sukses. Karena itu mereka dituntut memiliki gambaran dan perencanaan yang matang tentang tujuan dalam mendidik anak agar tidak salah arah dengan hasil yang mengecewakan.

Pendidikan anak dimaksudkan untuk mengembangkan semua potensi anak yang sangat diperlukan dalam menghadapi tantangan hidup di masa depan sesuai dengan konteks zamannya. Nabi Muhammad bersabda: Tiada suatu pemberian pun yang lebih utama dari orang tua kepada anaknya selain pendidikan yang terbaik (HR. Hakim).

Mengasuh dan mendidik anak adalah tanggung jawab bersama kedua orang tua, sehingga perlu saling dukung dan membangun komunikasi dengan baik. Perlu mengedepan musyawarah dan kebersamaan kedua orang tua dalam mendidik anak, termasuk berbagi peran yang adil dan tepat.

Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali, berkata: pendidikan anak adalah urusan yang sangat penting dan harus diutamakan dari urusan lainnya. Jika anak dididik dengan baik, dia akan tumbuh menjadi baik, saleh dan bahagia dunia-akhirat. Setiap mendidik anaknya, orang tua akan mendapat pahala kebaikan yang dilakukannya.

Tujuan pendidikan anak menurut Islam adalah terciptanya insan kamil (manusia sempurna), yang memegang teguh nilai-nilai moral, memiliki kehidupan sosial yang baik, dan sejahtera lahir batin. Hal ini seiring dengan tujuan diciptakannya manusia agar mereka beribadah (QS: al-Dzariyat: 56) dan memakmurkan bumi (QS: Hud: 61).

Kehadiran anak adalah dambaan setiap keluarga. Mereka hadir memberikan warna kebahagiaan yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Karenanya, mereka harus diperlakukan, dididik, dan ajarkan tentang ilmu dan adab dengan baik dan terencana agar tetap memberi "cahaya" dan kelak menjadi generasi berkualitas dan berkarakter.

Nabi Muhammad saw telah memberikan contoh bagaimana mendidik anak dengan baik dan taktis sesuai dengan perkembangan usia. Metode pendidikan anak ala Nabi dapat diduplikasi oleh siapapun dengan menyesuaikan konteks yang ada.

Beberapa contohnya diantara:

  • Tuntunan bayi yang baru lahir diperdengarkan azan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri, sebagaimana sabdanya: "ajarkanlah kalimat Laa ilaaha illallahu kepada anak-anakmu sebagai kalimat pertama yang mereka dengar (HR. Al-Hakim). Tujuan memperdengarkan kalimat tauhid sebagaimana dalam azan dan iqamah kepada bayi yang baru lahir adalah cara bagaimana orang tua menanamkan pada memory anak yang masih bersih (seperti kertas putih) agar memiliki komitmen dan keteguhan keyakinan bahwa Tiada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah.
  • Memberi nama yang baik kepada anak. Nama bukanlah sekedar penanda (identitas), tetapi juga mengandung unsur doa atau harapan dari orang tua terhadap anak-anaknya. Sehingga memberi nama anak yang baik, dan juga panggilan yang baik adalah keharusan agar dapat mendorong terkabulnya harapan tersebut. Hindari membuat "laqab" atau sebutan anak yang tidak pantas!
  • Selalu mendoakan untuk anak. Rasulullah sering memperdengarkan zikir dan doa untuk anak-anaknya. Doa adalah kekuatan yang luar biasa dari orang tua kepada anak-anaknya sebagai bagian dari "pengikat batin" kepada Sang Khaliq agar mereka menjadi generasi yang berkualitas dan berkarakter, serta bermanfaat untuk orang banyak.
  • Mendidik anak dengan cinta dan kasih sayang. Rasulullah adalah tipe bapak yang sangat dekat dengan anak. Beliau sering menggendong, memeluk, mengusap kepala, dan mencium anak-anaknya dengan penuh cinta kasih. Kedekatan orang tua dengan anak secara fisik dan psikologis akan mengembangkan kepercayaan dasar dalam membentuk kepribadian dan keterampilan sosialisasi dengan lingkungan.
  • Mengutamakan pendidikan karakter (budi pekerti). Rasulullah adalah teladan terbaik bagi anak-anaknya untuk membangun karakter mulia anak. Demikian juga orang tua harus menjadi contoh bagi anak-anaknya dalam bersikap dan berperilaku agar anak-anak memiliki karakter mulia.

Beberapa karakter yang perlu diajarkan kepada anak diantaranya adalah sikap moderat (tawassuth), seimbang dalam segala hal (tawazun), berani menegakkan keadilan (i'tidal), toleransi (tasamuh), dan melaksanakan "amar ma'ruf nahi munkar".

Nabi juga mengajarkan tentang pentingnya sikap hidup yang harus dimiliki dalam membangun generasi, yaitu jujur atau berkata benar (shiddiq), dapat dipercaya (amanah), cerdas (fathanah), dan menyampaikan kebenaran kepada orang lain (tabligh).

Beberapa contoh metode pendidikan anak ala Rasulullah di atas dapat diterapkan oleh para orang tua dalam mendidik anak-anaknya untuk membentuk generasi berkualitas dan berkarakter mulia. Faktanya, anak memang amanah Tuhan yang harus dijaga dan dilaksanakan dengan baik oleh setiap orang tua. Jangan biarkan anak jadi "bencana" bagi keluarga!

Untuk mewujudkan generasi berkualitas akan nampak lebih nyata setelah anak lahir. Pendidikan usia dini (0-6) merupakan pondasi bagi generasi masa depan yang berkualitas. Pada masa ini pulalah pembiasaan sikap dan karakter positif dibentuk.

Pada usia dini, otak mereka berkembang sangat pesat. Menurut ahli, perkembangan otak anak yang berusia 8 tahun sudah mencapai 80%. Betapa pentingnya 8 tahun pertama ini akan mempengaruhi manusia sepanjang hayatnya.

Secara sederhana, tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh dua faktor. Pertama faktor genetis (bawaan), meliputi bentuk fisik, daya tahan tubuh, termasuk sifat/temperamen dan aspek emosi. Kedua faktor lingkungan yang mempengaruhi sejak dalam kandungan, seperti gizi ibu, kesehatan ibu, termasuk stres yang dialami ibu. Pasca lahir meliputi gizi, kebersihan, kasih sayang orang tua, stabilitas rumah tangga, dll.

Pada umumnya, anak memiliki karakteristik sama, yaitu:

  1. Unik. Tak ada satupun individu yang terlahir sama, meskipun kembar identik sekalipun. Mereka memiliki minat dan ketertarikan berbeda, gaya belajar berbeda, dll, sehingga pola mendidik untuk setiap anak tidak bisa disamakan.
  2. Aktif. Anak usia dini yang sehat akan selalu ceria dan aktif bergerak. Mereka senang berlari, melompat dan melakukan kegiatan fisik lainnya. Mereka belum bisa fokus atau duduk tenang dalam waktu lama. Mereka tertarik dengan aktifitas menyanyi, menari, dan bermain peran.
  3. Rasa ingin tahu. Anak-anak menunjukkan ciri rasa ingin tahu yang tinggi, khususnya bagi anak yang sudah dapat bicara. Menyukai bongkar pasang, suka menyentuh yang mereka belum diketahui. Kemampuan berpikir mereka sangat pesat.
  4. Imajinasi. Pikiran anak-anak penuh dengan daya imajinasi, suka mengkhayal. Seringkali pikiran mereka tidak masuk akal. Mereka memiliki bayangan dan pikiran menurut dunianya sendiri, bahkan terkadang bicara sendiri untuk mengekspresikan pikirannya.
  5. Prinsip-prinsip belajar dan mendidik anak yaitu: meniru. Anak belajar dari contoh, sehingga orang tua harus bisa jadi teladan bagi mereka karena sering berada di rumah. Keteladanan menjadi kunci dalam pendidikan anak di rumah.
  6. Belajar adalah proses. Belajar membutuhkan kesabaran dan waktu panjang. Bagi anak mempelajari sesuatu tidak cukup sekali, lalu jadi. Dibutuhkan pengulangan, misalnya menanamkan sikap hidup bersih dengan membuang sampah pada tempatnya. Dibutuhkan pembiasaan secara konsisten.
  7. Menyenangkan. Dunia anak adalah bermain, sekaligus sebagai media belajar. Belajar sambil bermain, atau bermain sambil belajar hingga mereka senang dan memahami pelajaran dengan baik.
  8. Bertahap (gradual). Setiap anak yang bertambah usia, maka kemampuan mereka juga bertambah. Anak belajar secara bertahap sesuai dengan usia dan kematangan. Sebagai orang tua perlu memberikan rangsangan sesuai dengan usia dan kematangannya.
  9. Pengulangan. Dalam proses belajar anak dibutuhkan repistisi (pengulangan). Semakin sering mengulanginya, semakin kuat dia menguasainya. Salah satu proses belajar anak secara cepat (efektif) adalah pembiasaan, terutama pembiasaan yang baik dan menyenangkan.

Untuk mewujudkan generasi berkualitas, para orang tua harus memahami hak-hak anak, sehingga pola asuh dapat disesuaikan dengan kondisi psikologis anak. Banyak orang tua gagal mendidik anak menjadi lebih berkualitas gara-gara mereka tidak memahami hak-hak anak.

Hak anak adalah segala sesuatu yang seharusnya didapatkan sejak lahir. Hak anak ini melekat dalam diri anak sebagai Hak Asasi Manusia. Orang tua harus tahu dan memahami hak anak sebagai dasar pengasuhan dan pendidikan dalam keluarga.

Prinsip dasar hak anak adalah :

  1. Anak tidak boleh dibeda-bedakan hanya karena perbedaan jenis kelamin, agama, suku, ras dan budaya.
  2. Hal terbaik buat anak harus menjadi pertimbangan.
  3. Anak tetap untuk hidup dan berkembang sebagai manusia dengan baik.
  4. Anak harus dihargai dan didengar pendapatnya.

Beberapa contoh hak anak yang perlu dipenuhi:

  1. Hak mendapatkan identitas.
  2. Mendapatkan perlindungan dan keamanan.
  3. Diasuh penuh kasih sayang.
  4. Mendapatkan pendidikan yang baik.
  5. Mendapatkan perawatan dan pelayanan.
  6. Bermain, beristirahat, dan rekreasi sesuai usianya.

Dalam UU No 23 th 2002 tentang Perlindungan Anak bahwa anak berhak mendapatkan perlindungan dari: diskriminasi; eksploitasi baik ekonomi maupun seksual; penelantaran; kekejaman, kekerasan dan penganiaan; ketidakadilan; dan perlakuan salah lainnya.

Lalu apa peran dan tanggung jawab orang tua? Setiap orang tua bertanggung jawab atas anaknya sebagai amanah dari Allah. Setiap perilaku orang tua kepada anaknya akan dipertanggung jawabkan di akhirat kelak. (QS: Al-Tahrim: 6).

Pola asuh anak adalah cara, gaya, dan sikap orang tua dalam mengasuh anak sehari-hari. Pola asuh meliputi cara orang tua dalam berkomunikasi dan berinteraksi; bagaimana sikap orang tua menerapkan aturan, merespon perilaku anak, bagaimana mengajarkan kemandirian dan disiplin.

Jenis pola asuh ada tiga, :

  • Pertama pola asuh otoriter. Ciri pola asuh ini adalah sikap orang tua yang terlalu tegas dan tanpa menghargai anak. Orang tua otoriter cenderung memaksa anak untuk mengikuti kehendak dan aturan yang kaku. Dampaknya anak merasa tertekan, tidak PD, cenderung agresif/berontak dan tidak terampil mengambil keputusan.
  • Kedua, pola asuh permisif. Ciri pola asuh ini orang tua tidak tegas dan cenderung serba boleh. Orang tua tidak memberi batasan jelas dan tegas tentang berbagai aturan perilaku. Dampak negatifnya anak tumbuh menjadi pribadi yang suka memaksakan kehendak, mau menang sendiri, kontrol diri kurang, dan kurang bertanggung jawab.
  • Ketiga, pola asuh demokratis. Ciri pola asuh ini orang tua tetap tegas tetapi menghargai anak. Orang tua demokratis bersikap hangat, mendengarkan dan mampu memahami perasaan anak. Hasil dari pola asuh ini anak akan tumbuh menjadi pribadi yang PD, mandiri, memiliki kontrol diri yang baik, dan bertanggung jawab.

Anak adalah cerminan dari orang tua. Apa yang dilakukan oleh orang tua akan ditiru oleh anak. Dalam teori psikologi, anak akan tumbuh kembang seperti orang yang paling dekat dan membersamai dengannya, karena anak adalah makhluk peniru yang paling ulung.

Dalam pendidikan anak, hubungan dan komunikasi antara orang tua dengan anak sebagai hal yang sangat penting. Di dalam interaksi sehari-hari terjadi proses pembelajaran dan pendidikan. Kunci dari komunikasi positif dan efektif adalah kemampuan orang tua memahami anak.

Untuk memahami anak dengan baik, hal terpenting yang perlu dibiasakan orang tua adalah mendengarkan anak. Jika anak didengar dan dipahami perasaannya, dia akan merasa nyaman, dianggap penting dan berharga.

Sebaliknya, anak yang tidak pernah didengarkan pendapatnya dan dimengerti perasaannya, ia pasti merasa ditolak, muncul perasaan kurang berharga dalam keluarga, kesal, marah, serta berakibat negatif pada rasa percaya dirinya.

Beberapa kesalahan umum dalam pola asuh anak:

  1. Orang tua telalu lunak, menyogok, mengulang-ulang perintah; membiarkan perilaku salah anak; berdebat; memberi kesempatan kedua; memberi aturan tidak jelas.
  2. Pola komunikasi dan interaksi negatif orang tua terhadap anak, seperti terlalu memerintah; meremehkan dan tidak pernah memuji karya anak; membandingkan dengan anak lain; memberi lebel/cap negatif; terlalu bawel menasehati; ekspresi penolakan terhadap anak.
  3. Orang tua sering menggunakan pola kekerasan, seperti: marah-marah, berteriak, dan bentak anak; menyakiti emosi; mempermalukan anak; mengancam dan menakuti; melakukan kekerasan fisik, dll.
  4. Orang tua kurang peduli kebutuhan anak, seperti tidak memberi perhatian; tidak peduli sekolahnya; tidak memberi perhatian terhadap minat anak; kurang memperhatikan kesehatan; tidak melibatkan anak ketika membuat rencana keluarga; gagal beri rasa aman; meninggalkan anak dalam waktu lama; tidak memberi kesempatan anak bermain dengan temannya.

Bagaimana menanamkan kedisiplinan anak agar patuh? Menanamkan kedisiplinan akan berhasil jika dilakukan sejak dini, yaitu: orang tua harus memberi contoh; aturan harus jelas; mendidik dengan tegas bkn keras; perlu pembiasaan dengan konsisten.

Bagaimana membiasakan karakter positif? Karakter atau akhlak yang baik harus menjadi fokus pertama sbelum mengajarkan pengetahuan. Faktor terpenting dalam pembentukan karakter adalah keteladanan orang tua dan orang sekelilingnya agar anak bisa menyerap dan meniru kebiasaan positif. Ketiadaan contoh baik menjadikan anak mencari figur lain di luar orang tua yang sgt mgkn salah (buruk).

Perbedaan pola asuh anak antara ayah dan ibu menjadi tantangan tersendiri krn anak akan mengalami kebingungan. Bahkan dalam beberapa hal bisa memicu konflik suami dan istri yang dapat mengurangi keharmonisan rumah tangga. Karena itu antar orang tua harus menemukan formula yang sm dalam mengasuh anak.

Dalam situasi khusus dimana orang tua telah bercerai, pengasuhan anak harus tetap menjadi prioritas. Orang tua tidak boleh egois apalagi ikut melibatkan anak dalam konflik orang tuanya. Anak tidak boleh kehilangan figur, tidak boleh dibiarkan tanpa tanggung jawab, apalagi tanpa ada yang melindungi dari bahaya, dan lain-lain.

0 Komentar untuk "Seri Bimbingan Perkawinan : Generasi Berkualitas"

Back To Top